Senin, 28 November 2011

Pemanfaatan sampah kabel, kayu, dan kemasan minuman sebagai souvenir antik

”Bukan lautan hanya kolam susu, …kail dan jala cukup menghidupimu…..tongkat dan kayupun jadi tanaman…” Itulah penggalan lirik lagu dari Koes Plus. Apa maksud dari lirik lagu tersebut?  Benar, apapun kondisi ekonomi Indonesia saat ini, kalau kita mau berinovasi segalanya akan bisa terwujud. Alam dan bumi Indonesia sangat mendukung potensi yang kita miliki. Dengan sedikit sentuhan kreatifitas tangan kita, sampah pun bisa jadi ladang penghasilan bagi kita. Di luar sana banyak sekali orang yang meraup banyak keuntungan dari sampah. Sampah sangat melimpah sekitar kita, lalu bagaimana memanfaatkannya?

Pemanfaatan Sampah di SMK Negeri 7 Surabaya
Di SMKN 7 Surabaya terdapat 10 program keahlian. Setiap program keahlian tersebut menghasilkan banyak sampah. Seperti di program keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik, banyak membuang kabel-kabel bekas, di program keahlian Bangunan, membuang serbuk kayu, coral kecil, dan potongan kayu. Dari kantin sekolah pun juga menghasilkan banyak sampah dari kemasan minuman dan makanan ringan menjadi barang antik yang bernilai tinggi.
1.    Prosedur Pengolahan
Pemanfaatan sampah sekolah, dapat dilakukan di supermarket SMKN 7 Surabaya. Bermula dari sampah dan sisa buangan dari praktek jurusan di SMK Negei 7 Surabaya. Didukung oleh siswa dalam membantu pengolahan sampah di sekolah. Sekolah juga mengadakan pelatihan bagi siswa untuk mendaur ulang sampah tersebut. Pelatihan tersebut dapat diwujudkan melalui ekstra kurikuler atau Balai Pelatihan. Dengan begitu siswa dapat berlatih berwirausaha. Setelah itu, hasil olahan sampah akan di-display-kan di ruang pameran sekolah, setiap orang dapat melihat dan membelinya.

2.    Pemasaran
Pemasaran hasil olahan sampah ini dapat dilakukan dengan cara membuat ruang display sekaligus menjual kepada siswa, guru, karyawan dan komunitas sekolah yang lain termasuk peserta diklat yang hampir setiap bulan mengadakan kegiatan di sekolah. Dalam perjalanan nanti bisa didirikan stand yang khusus untuk mempromosikan hasil olahan sampah tersebut. Suatu saat sekolah akan membangun minimarket. Sudah banyak minimarket yang terisi dengan kebutuhan sehari-hari. Tapi, minimarket ini beda dengan lainnya. Di sini menyediakan berbagai macam souvenir yang bahan bakunya adalah sampah dari sekolah.

3.    Sasaran
Mengapa harus membangun minimarket di sekitar sekolah? Karena sasaran konsumen kita sudah ada yaitu siswa, guru, karyawan dan tamu diklat yang ada di SMK Negeri 7 Surabaya. Kita dapat menginformasikan pada mereka melalui mading sekolah atau sosialisasi di setiap program keahlian. Sasaran selanjutnya adalah masyarakat sekitar. Kita dapat menginformasikannya melalui brosur, promosi melalui SPG, dan lain sebagainya.

4.    Penggunaan hasil
Karena usaha ini bergerak di bawah pimpinan sekolah, maka hasil dari usaha ini layaknya digunakan untuk keperluan sekolah. Seperti perbaikan sarana dan prasarana di sekolah. Bayangkan hanya dengan sampah, SMK Negeri 7 Surabaya akan menjadi Branding.

Bidang Usaha dan Kegiatannya
1.    Pemanfaatan kabel listrik bekas
Sisa kabel listrik yang di pakai setelah praktek, dapat di manfaatkan untuk membuat       miniature atau aksesoris.

2.    Pemanfaatan limbah kayu
Di program keahlian bangunan ini membuang limbah berupa serbuk kayu, serat kayu, dan koral – koral kecil. Limbah tersebut dapat dikreatifitaskan menjadi hiasan dinding yang bernilai jual dan sesuai permintaan pasar.

3.    Pemanfaatan kemasan minuman (sampah kantin)
Memang terlihat tak berharga dan terbuang. Tapi sebenarnya ini dapat menjadi barang yang berharga. Dengan kreatifitas, kemasan minuman yang terbuang ini bisa menjadi tas yang menarik dan tidak terlihat jika terbuat dari kemasan bekas.

Banyak di pasaran yang memproduksi tas berbahan kemasan bekas, tapi itu nampak seperti iklan berjalan. Maka kita harus lebih inovatif dalam mengolah barang yang sesuai dengan permintaan pasar.

Kiat Pelayanan Konsumen
1.   Perhatikan    Permintaan     Pembeli
Dengarkan complain pelanggan dengan penuh perhatian. Jika pelanggan marah, kita harus   tetap tenang dan sopan. Lama – kelamaan mereka juga akan mengerti. Dan lebih penting lagi jangan biarkan pelanggan menunggu. Karena jika pelanggan menunggu, maka moodnya akan    semakin     jelek.
2.    Jaga    kebersihan
Kebersihan adalah sebagian dari iman. Mungkin slogan itu diterapkan dalam melayani konsumen. Pelayanan dengan standar tinggi belum cukup apabila kita tidak memperhatiakan kebersihan suatu tempat dan produk.
3.   Jaga    kualitas    barang
Meski hasil daur ulang sampah, kualitas barang dibutuhkan dengan cara, antara lain:
a.    Pertahankan pelayanan produk
b.    Memperhatikan keadaan produk yang dipasarkan
c.    Menjaga mutu bahan baku
d.    Pengemasan menarik
e.    Produk sesuai dengan permintaan pasar
f.    Merespon positif pada setiap konsumen
4.    Teknik penjualan
Dengan bersosialisasi ke kelas dan jurusan, kita dapat memperkuat jaringan sehingga kita dapat memperoleh banyak konsumen. Sosialisasi pada siswa yang merupakan sasaran pertama dalam menjaring pembeli.

Selain itu, pemasaran internet sangat berperan dalam memajukan marketing. Kerena pemesanan lewat internet bisa berpromosi secara sederhana, cepat, murah dan hasilnya maksimal.

Kesimpulan
Banyak cara bisa kita lakukan untuk menjadikan sesuatu jadi lebih bermakna. Sampah dan Sisa dari alat dan bahan praktek siswa di SMK Negeri 7 Surabaya bisa dijadikan contoh sebagai kegiatan yang memanfaatkan sampah menjadi peluang berwirausaha. Kritik dan Saran untuk revisi tulisan ini sangat kami harapkan. Semoga tulisan ini banyak bermanfaat. Amin. 


Lucyana Erlita, suka mendaur ulang “sampah”

Siapa yang suka dengan sampah??? Hhhhmmmm, tentu tak ada yang mau menyentuh sampah jika harus disuruh. Eitsss…. Tapi, tidak semua sampah adalah barang tak berguna. Sebagian dari sampah yang hendak dibuang, justru bisa dimanfaatkan kembali untuk dikemas sebagai produk anyar yang punya nilai ekonomi. Tak percaya? Coba, tanyakan saja hal ini pada Lucyana Erlita Purnama Putri, pemenang pertama lomba artikel FEKSI Jawa Timur.

Lucy, begitu ia karib disapa, yang menulis artikel bertajuk “Pemanfaatan Sampah Kabel, Kayu, dan Kemasan sebagai Souvenir Antik”, terbilang orang yang langka. Ia dan sejumlah kawan di sekolahnya, SMKN 7 Surabaya, kerap memanfaatkan sampah hasil praktikum di sekolah untuk didaur ulang menjadi produk souvenir kerajinan. Sampah sisa praktikum listrik, misalnya, ia olah menjadi souvenir bunga. Pun dengan sampah plastik pembungkus permen dan makanan, bisa dikemas ulang sebagai souvenir yang tak kalah cantiknya.

Belia kelahiran Surabaya, 18 Juni 1994, itu sehari-hari adalah siswi jurusan teknik komputer jaringan di sekolahnya. Buah cinta kasih pasangan Djoko Hadi Purnomo dan Irmina Kustin Romlah, ini berangan-angan ingin menjadi seorang pengusaha yang sukses. “Saya suka membuat sesuatu (produk) agar menjadi lebih berarti (bernilai ekonomi),” tutur remaja yang gemar menulis tersebut. Ia berharap FEKSI bisa terus berlanjut dan kian mampu menarik remaja di Indonesia untuk menjalankan kegiatan ekonomi kreatif. “Saya siap membawa nama baik Jawa Timur dalam grand final FEKSI yang akan datang di Jakarta,” pungkas sosok yang dikenal agak pendiam itu dengan wajah optimistik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar